Saya bertemu dengan Teman – teman ketika kami sama – sama mendaftar di sekolah yang sama, ketika itu kami masih sangat muda, hijau, sama – sama masih belajar banyak mungkin juga karena kesamaan nasib dan cara pandang, kami waktu itu mendaftar di STM karena keinginan kami dan orangtua kami sangat sederhana ingin agar setelah lulus nanti bisa langsung bekerja agar bisa membantu ekonomi keluarga walaupun kelak jalannya tidak pernah mudah.
Waktu itu saya diterima di STM negri jurusan Tehnik Mesin Produksi bidang Teknologi Pengolahan Logam nama kelasnya waktu itu MP1-2, diantara banyaknya murid pada waktu itu 10 orang diantaranya menjadi sahabat setia saya sampai saat ini, kami tak pernah lupa untuk sekedar berkumpul setiap akhir pekan, dari sekedar kumpul – kumpul, ngobrol ngalor ngidul, jalan – jalan juga kadang – kadang menyewa studio untuk sekedar menyanyi bersama.
Setelah lulus STM sebelumnya saya tak pernah menyangka bahwa kami akan seakrab ini, ada satu kejadian yang mungkin kalau bisa dibilang inilah hal yang menjadikan kami tetap berhubungan sampai dengan sekarang yaitu penyakit yang diderita oleh salah satu teman kami yang bernama cahyo tidak lama setelah lulus sekolah, kebetulan juga keluarga berasal dari keluarga yang kurang mampu, keinginan kami untuk membantu sangat besar, namun karena kami pada waktu itu masihlah sangat muda saya sendiri yang sudah bekerja pada waktu itu punya gaji yang pas – pasan, penyakit yang deritanya pada waktu itu adalah pembengkakan dilambung kalau kata ibunya hal ini disebabkan oleh hobinya sebelum sakit yaitu suka makan makanan yang asam, pedas dan juga jengkol, karena ketidakmampuan biaya, pada awalnya kami hanya memberi obat – obatan sederhana seperti memberinya rebusan air cacing tanah tentunya tanpa sepengetahuannya, tapi dari waktu ke waktu penyakit yang dideritanya pun semakin parah, jika sudah kambuh dia tidak bisa buang air besar misalpun bisa maka yang keluar adalah darah, juga jika muntah maka yang keluar adalah darah, dan yang kukagumi pada waktu itu adalah ketabahannya, biarpun menderitanya dia tak sedikitpun sumpah serapah keluar dari mulutnya.
Kamipun berunding mencari jalan untuk mengobati penyakitnya, karena ketiadaan biaya maka diputuskan dengan pengobatan alternative menurut sumber informasi yang dapat dipercaya ada didaerah garut, jadi metode pengobatannya adalah dengan mentransfer penyakit sipasien ke hewan kambing, tapi yang menjadi masalah adalah transportasi menuju kesana, tapi untunglah pada waktu itu temanku si darwis punya pacar dan pacarnya itu punya kakak dan kakaknya itu punya mobil Suzuki Escudo, jadi singkat kata kami memakai mobil kakaknya pacar si darwis, tapi sebelum berangkat ternyata mobil itu bermasalah, kedua lampu depannya tidak menyala, tak mungkin kami nekat jalan gelap – gelapan, disaat keadaan bingung, kebetulan ada kenalan yaitu kang nana dan kang tommy mau ke bandung dan kang tommy itu kebetulan juga berprofesi sebagai montir, lampupun menyala akhirnya kami pun terselamatkan jadilah kami berangkat ke sana dengan jumlah 9 orang berdesak - desakan, merekapun bersedia memberi uang bensin, Lumayan bisa ngirit, teman2 yang lain yang tidak bisa ikut memberi kabar kepada yang lain tentang usaha kami tentu juga diharapkan bantuan mereka.
Singkat kata kamipun berangkat ke garut tapi sebelumnya singgah dulu di Bandung semalam, kemudian besoknya melanjutkan perjalanan ternyata kang nana dan kang tommy bersedia mengantar ketempat yang dituju ketika mendengar cerita kami, ketika sampai di Garut hari sudah sore, kamipun lanjut lagi sebab dukunnya tidak tinggal dikota tetapi di pedesaannya, setelah sampai kamipun bermalam dirumah penduduk sekitar, malamnya kami bercerita ngalor ngidul diruang tamu, waktu itu saya hanya ikut mendengarkan saja, ceritanya mulai dari yang romantis tapi lama – kelamaan merembet ke hal yang mistis bin seram, tentu saja pada waktu itu saya merinding juga mendengarnya, ketika malam semakin larut sayapun mengantuk, tertidur di ruang tamu, saya terbangun sekitar jam 03.30 WIB dikarenakan kantung kemih saya penuh dan juga suasana sepi sekali, “ Pada kemana ya.. orang2 yang tadi?” dalam hati saya, ditambah lagi teringat akan cerita2 mistis dan juga udara terasa sangat dingin semakin terasa takut dan merindinglah saya ini, ditengah ketakutan sayapun masuk kamar tiduran ditengah teman2 saya ranjang yang sudah sempit jadi semakin sempit karena di tempati oleh 3 orang, alhasil sayapun harus tersiksa menahan kencing sekitar 1½ jam sampai kumandang adzan subuh baru saya berani keluar ke sumur.
Ternyata pada pagi harinya sudah banyak pasien yang berkumpul di depan rumah dukun tersebut, saya melihat beraneka ragam penyakit yang diderita oleh para pasien, tiba giliran temanku untuk pengobatan setelah sebelumnya di inapkan terlebih dahulu selama semalam dirumah sang dukun, setelah mantra2 dibacakan sikambingpun disembelih setelah itu dibelah isi perutnya untuk membuktikan bahwa si penyakit telah berpindah ke si kambing, antara percaya dan tidak saya memang melihat bahwa keadaan isi perut kambing itu terlihat lebih jelek dibanding dengan kambing2 yang lain juga sedang disembelih, setelah itu sang dukun membaca mantra2 lagi, memberi ramuan yang harus diminum secara rutin juga syarat2 khusus yang tak boleh dilanggar dan yang tak kurang penting setelah ritual pengobatan itu sang pasien tak boleh tertidur sampai malam berikutnya atau istilahnya begadang, saya bisa membayangkan betapa tersiksanya dirimu kawan!.
Kamipun segera pulang ke Jakarta setelah mampir dulu ke Bandung menjemput teman2 yang lain, pada saat itu dalam bayangan kami semua sudah selesai si Cahyo bakalan sembuh dan tidak akan kambuh lagi, memang pada hari – hari dan bulan2 berikutnya ketika kami berkumpul dia kelihatan sehat dan normal, namun setelah setahun lewat diapun kambuh lagi, malahan lebih parah, kami tidak tahu apakah pengobatannya tidak manjur, salah makan atau melanggar pantangan sehingga penyakitnya kambuh lagi, dalam hati kamipun kalau memang dia harus di panggil sang Ilahi kami rela karena tidak tahan melihat penderitaannya, kamipun segera kembali merapatkan barisan, tanpa persiapan dan uang yang cukup kamipun nekat mengirimnya ke rumah sakit, pikir kami pada waktu itu yang penting nyawa sahabat kami itu bisa diselamatkan masalah uang belakangan, disaat – saat terdesak selalu saja ada keajaiban entah kami bisa sebut apa hal itu mungkin saja kebetulan tapi yang saya tahu tak ada hal sekecil apapun yang terjadi karena kebetulan, misalnya disaat kami harus membeli obat atau membayar tagihan semua pasti terbayar padahal beberapa jam sebelumnya kami tidak punya uang. Dokterpun menyarankan agar teman kami dioperasi, lagi-lagi kamipun bingung mendapatkan uang untuk biaya operasi yang tentunya tidak sedikit, tapi lagi-lagi Allah maha adil, maha mendengar doa umatNya, disaat seperti itu teman kami si Darwis aktivis mahasiswa itu ternyata telah mengajukan Cahyo sebagai perserta dari Dompet dhuafa di salah satu surat kabar terkenal di ibukota dan telah disetujui, kedekatannya dengan organisasi dan keahliannya dalam bernegosiasi membuahkan hasil, singkat kata operasipun berjalan lancar, katanya lambung dengan ususnya dipasang cincin, model dan fungsinya apa kami tidak tahu, Ternyata kalau niat baik dan segera dikerjakan selalu ada jalan keluarnya walaupun tentunya terdapat banyak rintangan untuk melaluinya, tapi yang pasti si Cahyo sehat hingga saat ini sudah bekerja dan bisa bercita – cita.
Berawal dari niat untuk mengobati sakitnya teman ternyata berlanjut hingga hari – hari berikutnya kami jadi semakin kompak, jadi sama – sama merasakan suka dukanya diantara teman2 menjadi banyak cerita2 yang kalau di ingat kembali bisa di bilang unik lucu dan terkadang menyedihkan.